A. Sejarah Tari Raddat
Kesenian adalah salah satu unsur kebudayaan yang
keberadaannya sangat diperlukan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh
karena itu kesenian mempunyai bidang-bidang cakupan yang cukup luas dan
beragam. Sementara itu menurut Richard L. Anderson seni mempunyai sifat umum
yang dapat dijumpai dimanapun.[1] Dari sekian banyak ragam dan jenis
tari tradisional budaya lokal dalam masyarakat melayu Sambas,
salah satu diantaranya adalah seni tari Raddat dalam sebutan popular di Sambas
adalah Raddat tari ini sangant
digemari masyarakat dan merupakan warisan budaya masa lampau dan bernilai seni
cukup tinggi.
Tari Raddat
merupakan tarian tradisional yang bersifat mendidik dan menghibur. Tarian ini digunakan sebagai dawah Islamiyah
melalui syair lagu-lagu Raddat
yang dinyanyikan.[2] Sejak bila tari Raddat ini mulai
dikenalkan, dan siapa yang mengenalkan dan mengajarkannya, hingga saat ini
belum diperoleh keterangan yang jelas dan data yang akurat.[3]
Kalau
disimak dari syair lagu yang ditulis dalam huruf dan bahasa Arab, begitu pula
irama lagu yang berirama padang pasir, tari Raddat terasa nuansa islaminya.
Dari kenyataan ini ada andaian Radaad berasl dari budaya islam (Arab),
berinteraksi beradaptasi dengan budaya lokal setempat dan akhirnya berkembang
membuahkan hasil akulturasi budaya lokal berupa Trai Raddat. Sementra itu, ada
juag perkiraan bahwa Raddat adalah budaya lokal murni. Jadi bukan dari budaya
Arab: Raddat diciptakan oleh seniman lokal yang kemudian diberi nafas Islami,
karena diperlukan untuk dakwah Islam.[4]
Raddat
dipercayai berasal daripada singkatan `Hadrat
Baghdad' yang menjadi sebahagian bentuk seni persembahan hadrah atau
berzanji (bacaan puji-pujian yg berisi riwayat Nabi Muhammad SAW). Melalui
perdagang Arab kesenia Raddat iyalah percampuran kesenian Arab dan Isalam yang
masuk sekitar abat 15-16 Raddat ke Kepulauan Melayu khasnya di
Sumatera, Borneo dan Tanah Semenanjong (Terengganu). Malah Sambas sebagai salah
satu Kerajaan melayu lewat pedagang-pedangang asal Sambas pedagang-pedagang
Arab menyebabkan Raddat semakin diminati di Terengganu (Malaysia). Raddat kini
telah menjadi acara tradisi yang terkenal di kalangan rakyat negeri Terengganu
sampai sekarang. [5]
B.
Perkembangan Tari Raddat
Kesenian sebagai
bagian unsur atau isi dari kebudayaan adalah sesuatu yang hidup, dinamis,
bergerak serta berkembang sesuai dengan zamanya. Demikian juga dengan seni tari
Raddat ide dan hasrat untuk membuat Raddat dalam bentuk lain dari yang lain
menyesuaikan diri dengan zaman telah di mulai sekitar 50 an walupun secara
perlahan-lahan rasa tidak puas terhadap penampilan Raddat secara tradisi
memberikan keinginan dan motifasi kepada senima-seniman muda Raddat untuk
melajukan pembaharuan pengembangan dan perubahan-perubahan. Berbagai
pengembangan dan pembahruan antara lain:[6]
a. Pelaku garak tari kalu dahualu gerak
hanya kaum laki-laki saja sekarang kaum perempuan bolah menarikan Raddat.
b. Alat musik yang semula terdiri dari
tiga buah tahar sekarang di padukan dengan alat musik moderen lainya.
c. Syair lagu dan irama yang semula dalam
bahasa Arab dan berirama padang pasi di tukar dengan bahasa Indonesisa
dan berirama lagu pop.
d. Gerak tari yang dirasa menoton
dicarikan gerak yang lain dan lebih serasi. Pola lantai di buat sedemikian rupa
berpariasi.
e. Busana penari di rencanakan dengan
memperhitungkan keserasian atau harmonisasa baik warna waktu serta seting
pentas.
C.
Musik Pengiring Tari dan Busana yang di
Pakai
Musik
pengiring tari disebut Musik Raddat, alat musiknya terdiri dari 3 buah rebana ukuran sedang, memakai
gerincing musik ini disebut juga musik Hadrah, karena rebananya sama dengan
Hadrah. Alat musik Tahar dimainkan oleh 3 orang penabuh.[7]
Tahar pertama disebut tahar induk, tahar kedua dan ketiga disebut tahar anak.
Kedua tahar anak ini sangat berperan dalam memberikan variasi lagi dan dinamika
atau tempo. Syair lagu dalam bahasa dan huruf Arab serta berirama padang pasir.
Pada saat ini syair lagu serta irama lagu ada yang menggantinya dengan lagu-
lagu umum berbahasa Indonesia.[8]
Pakaian
atau busana yang dikenakan pada saat menari pada awal Raddat di kembangkan,
terdiri dari baju kemeja tangan panjang
polos, celana panjang warna gelap dan memakai kopiah atau songkok, busana
penabuh biasanya menysuaikan. Pada saat penampilan khusus misalnya penyambutan tamu umumnya mengenakan stelan baju Teluk Belana
lengkap. Bila Raddat ditampilkan dalam forum
lomba, sestival dan sejenisnya, busananya yang di pakai
berorientasi pda keharmonisan desain dan
warna, tata pentas, di tambah aksesoris pendukung.[9]
D.
Posisi dan Ragam Gerak.
Tari Raddat dilakukan
dengan posisi duduk (setengah berdiri) berdiri penuh, melangkah kekanan-kekiri
maju kedepan dan lain-lain. Anggota badan yang paling banyak bergerak adalah
kedua tangan dan kaki.[10]
Dalam melaksanakan
tari Raddat, anggota tubuh yang paling banyak di gerakan adalah tangan
gerakan kepala menyesuaikan dengan tangan di ikuti dengan gerakan kaki yaitu
pada saat posisi tubuh berdiri penuh, yaitu melangkah kekanan dan kekiri.
Tari Raddat merupakan
tarian lepas, artinya gerakan dan ragam gerak tidak terhubung antara yang satu
dengan gerakan lainnya mengenai makna ragam gerak, belum ada gerak-gerak yang
baku berikut arti dari gerakan. Namun apabila dicermati ada makna yang tersirst
dan merupakan lambang-lambang gerakan tertentu. Misalnya ada ragam gerak
memberi hormat, ragam gerak bersedia menerima tugas yang diemban, ragam gerak
melakukan pekerjaan, ragam gerak berdoa dan bersyukur dll. Pada tari Raddat
tidak ada ragam gerak atau gerakan baku arinya berbagai gerakan yang harus
dilakukan sebagai ciri-ciri khas Raddat. Radad juga tidak mempunyai ragam gerak
dramatik atau gerakan berlakon. [11]Berapa
ragam gerak atau gerakan yang di lakukan antara lain: Gerak tahtim awal, Gerak
berdoa, Gerak bekerja, Gerak beladiri dll.
Arti atau makna gerak pada Raddat juga
tidak baku, kecuali ragam gerak tahtim. Gerak tahtim yang terdapat pada
kumpilan Raddat yang ada dikampung-kampung, di sambas pada umumnya sama yang
senantiasa berarti salam hormat kepada tuan rumah dan para penonton umumnya.
Tahtim awal bermakna juga mohon izin menari dan tahtim akhir mohon izin undur
diri. Penafsiran suatu gerak yang berbeda atas satu ragan gerak yang sama
mungkin terjadi karena berbeda nya lokai berkembnganya Raddat misalnya kampung
yang berada di tepi pantai dengan
kampung yang terletak di kaki gunung menyebabkan penafsiran berbeda.[12]
DAFTAR PUSTAKA
Abdur, H. Muhanni, Cukilan Adat Dan Budaya
Sambas, Tebas: Arjuna, 2006.
Sedyawati, Edi. Budaya Indosesia: kajian Arkeolog, seni dan
Sejarah. Jakarta : Pt Raja Grafindo Persada. 2006.
Ikram, A. Muin, Raddat Tari Tradisi Melayu Sambas, Sambas: Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan
Pariwisata, 2011.
Paradise, Gendhis, Ensiklopedia: Seni Dan Budaya Nusantar. Jakarta: Pt Kawan Pustaka 2009. Cet 1.
Hasil wawancara dengan
Bapak A. Muin Ikram, salah satu pemerhati Seni Budaya Melayu
Sambas di Desa Tumok. Saat ini ia masih giat dalam bidang penulisan Seni Budaya
Melayu. (Pelaksanaan wawancara tanggal 21 januari 2014 jam 13.00).
Hasil wawancara dengan
Bapak H. Arpan, salah satu penggiat Tari Raddat di Desa Pendawan. (Pelaksanaan wawancara
tanggal 21 januari 2014jam 15.30).
Trisno, “kearipan lokal mengenai tarian Raddat”
dalam http://buletinbiakSambas. Blogspot.cm/2012/12/kearifan-lokal-mengenal-tarian-Raddat.html (di
akses tgl 22-05-2014: jm 06:52 WIB).
Junky, Tari Radad Sambas’ dalam http://e-sambas.com/2573/tari-radad-sambas/ (diakses tgl 22-05-2014.jm 08.12 WIB)
[3]
Hasil wawancara dengan Bapak A. Muin Ikram, salah satu
pemerhati Seni Budaya Melayu Sambas di Desa Tumok. Saat ini ia masih giat dalam
bidang penulisan Seni Budaya Melayu. (Pelaksanaan wawancara tanggal 21 januari 2014 jam
13.00).
[4] Hasil wawancara dengan Bapak H.
Arpan, salah satu penggiat Tari Raddat di Desa Pendawan. (Pelaksanaan
wawancara tanggal 21 januari 2014jam 15.30).
[5]
Trisno, “kearipan lokal mengenai tarian Raddat” dalam http://buletinbiakSambas.
Blogspot.cm/2012/12/kearifan-lokal-mengenal-tarian-Raddat.html (di akses tgl
22-05-2014: jm 06:52 WIB).
[8] Junky, Tari Radad Sambas’ dalam http://e-sambas.com/2573/tari-radad-sambas/ (diakses tgl 22-05-2014.jm 08.12 WIB)
[10] Hasil wawancara dengan Bapak H.
Arpan, salah satu penggiat Tari Raddat di Desa Pendawan. (Pelaksanaan
wawancara tanggal 21 januari 2014jam 15.30).
[11]
Hasil wawancara dengan Bapak A. Muin Ikram, salah satu
pemerhati Seni Budaya Melayu Sambas di Desa Tumok. Saat ini ia masih giat dalam
bidang penulisan Seni Budaya Melayu. (Pelaksanaan wawancara tanggal 21 januari 2014 jam 15.00).