Minggu, 21 Desember 2014


A.    Sejarah Tari Raddat
Kesenian adalah salah satu unsur kebudayaan yang keberadaannya sangat diperlukan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu kesenian mempunyai bidang-bidang cakupan yang cukup luas dan beragam. Sementara itu menurut Richard L. Anderson seni mempunyai sifat umum yang dapat dijumpai dimanapun.[1] Dari sekian banyak ragam dan jenis tari tradisional budaya lokal dalam masyarakat melayu Sambas, salah satu diantaranya adalah seni tari Raddat dalam sebutan popular di Sambas adalah Raddat tari ini sangant digemari masyarakat dan merupakan warisan budaya masa lampau dan bernilai seni cukup tinggi.
Tari Raddat merupakan tarian tradisional yang bersifat mendidik dan menghibur. Tarian ini digunakan sebagai dawah Islamiyah melalui syair lagu-lagu Raddat yang dinyanyikan.[2] Sejak bila tari Raddat ini mulai dikenalkan, dan siapa yang mengenalkan dan mengajarkannya, hingga saat ini belum diperoleh keterangan yang jelas dan data yang akurat.[3]
Kalau disimak dari syair lagu yang ditulis dalam huruf dan bahasa Arab, begitu pula irama lagu yang berirama padang pasir, tari Raddat terasa nuansa islaminya. Dari kenyataan ini ada andaian Radaad berasl dari budaya islam (Arab), berinteraksi beradaptasi dengan budaya lokal setempat dan akhirnya berkembang membuahkan hasil akulturasi budaya lokal berupa Trai Raddat. Sementra itu, ada juag perkiraan bahwa Raddat adalah budaya lokal murni. Jadi bukan dari budaya Arab: Raddat diciptakan oleh seniman lokal yang kemudian diberi nafas Islami, karena diperlukan untuk dakwah Islam.[4]
Raddat dipercayai berasal daripada singkatan `Hadrat Baghdad' yang menjadi sebahagian bentuk seni persembahan hadrah atau berzanji (bacaan puji-pujian yg berisi riwayat Nabi Muhammad SAW). Melalui perdagang Arab kesenia Raddat iyalah percampuran kesenian Arab dan Isalam yang masuk  sekitar abat 15-16  Raddat ke Kepulauan Melayu khasnya di Sumatera, Borneo dan Tanah Semenanjong (Terengganu). Malah Sambas sebagai salah satu Kerajaan melayu lewat pedagang-pedangang asal Sambas pedagang-pedagang Arab menyebabkan Raddat semakin diminati di Terengganu (Malaysia). Raddat kini telah menjadi acara tradisi yang terkenal di kalangan rakyat negeri Terengganu sampai sekarang. [5]
B.    Perkembangan Tari Raddat
Kesenian sebagai bagian unsur atau isi dari kebudayaan adalah sesuatu yang hidup, dinamis, bergerak serta berkembang sesuai dengan zamanya. Demikian juga dengan seni tari Raddat ide dan hasrat untuk membuat Raddat dalam bentuk lain dari yang lain menyesuaikan diri dengan zaman telah di mulai sekitar 50 an walupun secara perlahan-lahan rasa tidak puas terhadap penampilan Raddat secara tradisi memberikan keinginan dan motifasi kepada senima-seniman muda Raddat untuk melajukan pembaharuan pengembangan dan perubahan-perubahan. Berbagai pengembangan dan pembahruan antara lain:[6]
a.      Pelaku garak tari kalu dahualu gerak hanya kaum laki-laki saja sekarang kaum perempuan bolah menarikan Raddat.
b.     Alat musik yang semula terdiri dari tiga buah tahar sekarang di padukan dengan alat musik moderen lainya.
c.      Syair lagu dan irama yang semula dalam bahasa Arab dan berirama padang pasi di tukar dengan bahasa Indonesisa dan berirama lagu pop.
d.     Gerak tari yang dirasa menoton dicarikan gerak yang lain dan lebih serasi. Pola lantai di buat sedemikian rupa berpariasi.
e.      Busana penari di rencanakan dengan memperhitungkan keserasian atau harmonisasa baik warna waktu serta seting pentas.
C.    Musik Pengiring Tari dan Busana yang di Pakai
Musik pengiring tari disebut Musik Raddat, alat musiknya terdiri dari 3 buah rebana ukuran sedang, memakai gerincing musik ini disebut juga musik Hadrah, karena rebananya sama dengan Hadrah. Alat musik Tahar dimainkan oleh 3 orang penabuh.[7] Tahar pertama disebut tahar induk, tahar kedua dan ketiga disebut tahar anak. Kedua tahar anak ini sangat berperan dalam memberikan variasi lagi dan dinamika atau tempo. Syair lagu dalam bahasa dan huruf Arab serta berirama padang pasir. Pada saat ini syair lagu serta irama lagu ada yang menggantinya dengan lagu- lagu umum berbahasa Indonesia.[8]
Pakaian atau busana yang dikenakan pada saat menari pada awal Raddat di kembangkan, terdiri dari baju  kemeja tangan panjang polos, celana panjang warna gelap dan memakai kopiah atau songkok, busana penabuh biasanya menysuaikan. Pada saat penampilan khusus misalnya  penyambutan tamu  umumnya mengenakan stelan baju Teluk Belana lengkap. Bila Raddat ditampilkan dalam forum  lomba, sestival dan sejenisnya, busananya yang di pakai berorientasi  pda keharmonisan desain dan warna, tata pentas, di tambah aksesoris pendukung.[9]
D.    Posisi dan Ragam Gerak.
Tari Raddat dilakukan dengan posisi duduk (setengah berdiri) berdiri penuh, melangkah kekanan-kekiri maju kedepan dan lain-lain. Anggota badan yang paling banyak bergerak adalah kedua tangan dan kaki.[10]
Dalam melaksanakan tari Raddat, anggota tubuh yang paling banyak di gerakan adalah tangan gerakan kepala menyesuaikan dengan tangan di ikuti dengan gerakan kaki yaitu pada saat posisi tubuh berdiri penuh, yaitu melangkah kekanan dan kekiri.
Tari Raddat merupakan tarian lepas, artinya gerakan dan ragam gerak tidak terhubung antara yang satu dengan gerakan lainnya mengenai makna ragam gerak, belum ada gerak-gerak yang baku berikut arti dari gerakan. Namun apabila dicermati ada makna yang tersirst dan merupakan lambang-lambang gerakan tertentu. Misalnya ada ragam gerak memberi hormat, ragam gerak bersedia menerima tugas yang diemban, ragam gerak melakukan pekerjaan, ragam gerak berdoa dan bersyukur dll. Pada tari Raddat tidak ada ragam gerak atau gerakan baku arinya berbagai gerakan yang harus dilakukan sebagai ciri-ciri khas Raddat. Radad juga tidak mempunyai ragam gerak dramatik atau gerakan berlakon. [11]Berapa ragam gerak atau gerakan yang di lakukan antara lain: Gerak tahtim awal, Gerak berdoa, Gerak bekerja, Gerak beladiri dll.
Arti atau makna gerak pada Raddat juga tidak baku, kecuali ragam gerak tahtim. Gerak tahtim yang terdapat pada kumpilan Raddat yang ada dikampung-kampung, di sambas pada umumnya sama yang senantiasa berarti salam hormat kepada tuan rumah dan para penonton umumnya. Tahtim awal bermakna juga mohon izin menari dan tahtim akhir mohon izin undur diri. Penafsiran suatu gerak yang berbeda atas satu ragan gerak yang sama mungkin terjadi karena berbeda nya lokai berkembnganya Raddat misalnya kampung yang berada di  tepi pantai dengan kampung yang terletak di kaki gunung menyebabkan penafsiran berbeda.[12]
DAFTAR PUSTAKA
Abdur, H. Muhanni, Cukilan Adat Dan Budaya Sambas, Tebas: Arjuna, 2006.
Sedyawati, Edi.  Budaya Indosesia: kajian Arkeolog, seni dan Sejarah.  Jakarta : Pt Raja Grafindo Persada. 2006.
Ikram, A. Muin, Raddat Tari Tradisi Melayu Sambas, Sambas: Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata, 2011.
Paradise, Gendhis, Ensiklopedia: Seni Dan Budaya Nusantar. Jakarta: Pt Kawan Pustaka 2009. Cet 1.
Hasil wawancara dengan Bapak A. Muin Ikram, salah satu pemerhati Seni Budaya Melayu Sambas di Desa Tumok. Saat ini ia masih giat dalam bidang penulisan Seni Budaya Melayu. (Pelaksanaan wawancara tanggal 21 januari 2014 jam 13.00).
Hasil wawancara dengan Bapak H. Arpan, salah satu penggiat Tari Raddat di Desa Pendawan. (Pelaksanaan wawancara tanggal 21 januari 2014jam 15.30).
Trisno, “kearipan lokal mengenai tarian Raddat” dalam http://buletinbiakSambas. Blogspot.cm/2012/12/kearifan-lokal-mengenal-tarian-Raddat.html (di akses tgl 22-05-2014: jm 06:52 WIB).
Junky, Tari Radad Sambas’ dalam http://e-sambas.com/2573/tari-radad-sambas/ (diakses tgl 22-05-2014.jm 08.12 WIB)



               [1] Edi Sedyawati.  Budaya Indosesia: kajian Arkeolog, seni dan Sejarah.  (Jakarta : Pt Raja Grafindo Persada. 2006). Halm 132-133
               [2] Gendhis Paradise.  Ensiklopedia: Seni Dan Budaya Nusantar. (Jakarta: Pt Kawan Pustaka 2009). Cet 1. halm 65.
[3] Hasil wawancara dengan Bapak A. Muin Ikram, salah satu pemerhati Seni Budaya Melayu Sambas di Desa Tumok. Saat ini ia masih giat dalam bidang penulisan Seni Budaya Melayu. (Pelaksanaan wawancara tanggal 21 januari 2014 jam 13.00).
[4] Hasil wawancara dengan Bapak H. Arpan, salah satu penggiat Tari Raddat di Desa Pendawan. (Pelaksanaan wawancara tanggal 21 januari 2014jam 15.30).
[5] Trisno, “kearipan lokal mengenai tarian Raddat” dalam http://buletinbiakSambas. Blogspot.cm/2012/12/kearifan-lokal-mengenal-tarian-Raddat.html (di akses tgl 22-05-2014: jm 06:52 WIB).
               [6] A. Muin, Raddat Tari Tradisi Melayu Sambas, hlm. 4
[7] H. Muhanni Abdur. Cukilan Adat dan Budaya Sambas. (Tebas: Arjuna. 2006) halm 36.
[8] Junky, Tari Radad Sambas’ dalam http://e-sambas.com/2573/tari-radad-sambas/ (diakses tgl 22-05-2014.jm 08.12 WIB)
[9] A. Muin, Raddat Tari Tradisi Melayu Sambas, hlm. 6
[10] Hasil wawancara dengan Bapak H. Arpan, salah satu penggiat Tari Raddat di Desa Pendawan. (Pelaksanaan wawancara tanggal 21 januari 2014jam 15.30).
[11] Hasil wawancara dengan Bapak A. Muin Ikram, salah satu pemerhati Seni Budaya Melayu Sambas di Desa Tumok. Saat ini ia masih giat dalam bidang penulisan Seni Budaya Melayu. (Pelaksanaan wawancara tanggal 21 januari 2014 jam 15.00).
               [12] A. Muin,  Raddat Tari Tradisi Melayu Sambas, hlm. 8